Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Perempuan Mendukung Semangat GotongRoyong dan Kemandirian Mama-Mama Pengrajin Tenun Nggela, NTT.

Tepat tiga tahun lalu, 29 Oktober 2018, Kampung Adat Nggela, di Kecamatan Wolojita
Kabupaten Ende, Pulau Flores terbakar habis. Sebanyak 22 dari 23 rumah adat Nggela rata dengan
tanah. Tiga tahun kemudian 18 rumah adat sudah terbangun, 8 diantaranya dibantu oleh Direktorat
Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 3 rumah masih dalam proses
pembangunan, dan 1 rumah terakhir akan dibangun dari hasil lelang tenun karya mama-mama
yang telah diselenggarakan pada hari Jum’at 29 Oktober 2021 di Pos Bloc, Jakarta Pusat.


Dalam catatan upaya revitalisasi kampung adat di tanah air, proses pemulihan yang terjadi
di Nggela adalah sebuah keniscayaan. Karena berlangsung dalam kurun waktu yang tidak terlalu
lama. Semua ini bisa terjadi karena semangat gotong royong dan kemandirian yang ditunjukkan
oleh para pihak yang terlibat. Mulai dari Pemerintah Pusat melalui Dirjen Kebudayaan, Pemerintah
Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Ende, BUMN melalui Pelindo 3, Yayasan Tirto Utomo,
Arsitek Yori Antar, organisasi sosial WIC dan Swiss Lady, hingga pribadi-pribadi yang penuh
kepedulian. Mama Ann antropolog dari Swiss, Ibu Claudia dari Maumere, Herman Heri Ketua
Komisi 3 DPR RI, Pertiwi Indonesia, serta Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Perempuan.


Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Perempuan Tri Hanurita
mengatakan, “Perempuan sangat berperan dalam penguatan relevansi pentingnya upaya menjaga
nilai-nilai adat peninggalan leluhur dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, dan bagi masyarakat
Nggela, NTT. Dan mama-mama merupakan tonggak berdirinya kearifan ekonomi lokal, serta
madrasah utama bagi pendidikan dasar dan karakter anak-anak”.


“Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Perempuan secara umum mendukung kegiatan
penggalangan dana dalam upaya pembangunan rumah-rumah adat di Nggela, NTT, khususnya
mendukung kegiatan mama-mama pengrajin tenun, dengan mengangkat karya indahnya ke pentas
nasional maupun internasional, karena tenun dapat menghidupi rumah”, imbuh Tri Hanurita.


Hasil tenun karya mama-mama pengrajin di Nggela, NTT kemudian didesain oleh
Hayuning Sumbadra, seorang fashion designer muda dan berbakat yang mendapat beasiswa
fashion design ke Milan, Italy. Karya-karya Adra dengan bahan dasar tenun Nggela yang dilelang
pada acara tersebut mendapat sambutannya yang sangat luar biasa dan pengunjung, total dana yang
terkumpul pada acara lelang mencapai lebih dari Rp 155 juta, ditambah dengan penjualan langsung
sebelum dan sesudah acara berlangsung, sehingga totalnya mencapai lebih dari Rp 200 juta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: