Uncategorized

PKN 2020: Saatnya Kita Memperhatikan Seniman dan Budayawan Indonesia

Siapa yang bisa membantah kalau Indonesia adalah pewaris kekayaan kebudayaan dan kesenian terbesar di dunia?

Saya rasa tidak ada satu pun

Dengan rentang geografis yang sangat luas dan penduduk yang besar, tidak heran jika Indonesia menjadi rumah dari berbagai kesenian dan kebudayaan. Dari segi bahasa saja, misalnya, ada 718 bahasa daerah, menurut keterangan Badan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Belum lagi kalau kita inventarisir satu per satu lagu, motif kain, kuliner, permainan tradisional, dan lainnya.

Tapi satu yang pasti, tidak ada satu pun produk seni dan budaya yang bisa eksis hanya dengan dicatat saja. Ia perlu dipraktikkan, dipertunjukkan, dan dinikmati bersama-sama oleh masyarakat. Dengan demikian ia abadi di dalam peradaban kita. Jika tidak, maka jangan heran jika tiap tahun kita harus gigit jari melihat negara-negara tetangga sesama rumpun Melayu akan mengklaimnya sebagai seni dan budaya khas mereka.

Dari beberapa diskusi dengan seniman, saya menyimpulkan bahwa pandemi telah menjadi barrier besar bagi mereka untuk bisa terus mempraktekkan kegiatannya. Memang ada solusi tampil secara online, tapi hanya relevan bagi seniman yang telah mempunya nama. Almarhum Didi Kempot, misalnya, yang telah membuktikan bisa mengumpulkan donasi amal Rp 5,3 Miliar hanya dari 3 jam berkonser.

Sayangnya, tidak semua seniman sepopuler almarhum.

Seperti pendapat aktivis pejuang musisi jalanan, Andi Malewa, sebenarnya mustahil menuntut dan berharap para pengamen mengadakan pertunjukan online secara mandiri. Untuk mengupayakan sesuap nasi untuk keluarga di rumah pun mereka sudah kesulitan luar biasa, jangankan punya gadget terbaru untuk merekam, pulsa unlimited untuk mengupload video rekaman, atau bahkan melakukan tindakan marketing seperti memasang ads online untuk menarik penonton. Sementara hasil imbal baliknya dari monetize Youtube sulit diharapkan, terutama kalau subscribernya belum sampai ribuan orang.

Untuk itu, negara harus hadir, memfasilitasi berbagai pertunjukan seni dan budaya kita. Pertunjukan online harus diupayakan secara kolektif. Negaralah yang memiliki fasilitas rekaman kuallitas tinggi. Negaralah yang bisa secara resmi mengajak jutaan pasang mata menonton mereka.

Dan yang paling penting, ini semua harus secara disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Memang sebagai negara pancasilais, bukan kapitalis maupun komunis, kita wajib menjaga keseimbangan antara kemandirian warga negara untuk mengekspresikan kreativitasnya dengan peran negara untuk membantu dan menghadirkan solusi bagi kesulitan bagi mereka.

Saya sendiri, setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai komisaris di beberapa BUMN investasi dan keuangan, belajar banyak tentang keseimbangan ini. Ada garis batas yang jelas antara korporasi swasta yang murni beroritentasi profit dengan korporasi ala BUMN yang tidak sekedar mengejar untung, tapi juga harus jelas sumbangsih dari aktivitasnya kepada masyarakat.

Jika terlalu sibuk mengejar keuntungan, maka hilanglah sudah sumbangsihnya bagi masyarakat. Ia menjadi tidak berbeda dengan korporasi swasta. Bahkan bila tak terkontrol, bisa jadi aktivitasnya malah jadi merugikan society.

Sebaliknya jika kegiatannya cuma berfokus kepada CSR dan bina lingkungan, mencari publikasi ketimbang mengurusi operasi, maka BUMN bisa kehilangan fokusnya kepada bisnis utama. Dalam keadaan ekstrim, malah menjadi beban negara karena terus-terusan minta disuntikkan modal. Padahal harusnya, setelah keuangannya sehat dan profit didapat, barulah sebagian digunakan untuk manfaat masyarakat. Harusnya, BUMN yang memberikan sumbangsih deviden bagi keuangan negara, bukan sebaliknya.

Begitu pula negara. Mustahil negara harus mengurusi setiap aspek kehidupan rakyatnya. Tapi negara juga tidak boleh berlepas tangan saat kesulitan melanda mereka.

Saya berharap Pekan Kebudayaan Nasional 2020 ini bisa menjadi salah satu tanggapan bagi instruksi presiden kita, untuk sesegera mengucurkan anggaran yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat di akar rumput. Setidaknya bisa menjadi hiburan pada saat mereka berbulan-bulan harus tinggal di rumah saja.

Dan bagi seniman dan budayawan, ajang ini bisa menjadi tempat mereka berekspresi kembali, setelah sekian lamanya tak boleh turun ke jalanan atau membuat pertunjukan.

Selamat bagi sahabat saya, Mas Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, atas terlaksananya event luar biasa ini, semoga bisa terus berlanjut dan diadakan setiap tahun.

Dyah Kartika Rini
Komisaris Independen Jasa Raharja (Persero)

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s