Dihantam Krisis Terorisme Dua Kali Berturut-turut, Rupiah Belum Rontok

Screen Shot 2018-05-14 at 10.49.36 PM.png

Indonesia sedang berduka karena dua kali serangan terorisme berturut-turut. Pertama pemberontakan dan pembunuhan 6 orang polisi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Yang kedua adalah pemboman beberapa gereja di Surabaya. Keduanya menimbulkan korban berjatuhan yang luar biasa banyaknya dan keresahan di kalangan rakyat Indonesia. Banyak yang meramalkan bahwa peristiwa-peristiwa ini akan diikuti oleh guncangnya perekonomian Indonesia.

Namun kalau kita mau teliti, sebenarnya justru keduanya adalah ujian bagi fudamental ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo. Setelah sebelumnya melorot ke level 14.000an karena menguatnya Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah (dan tentunya mata uang negara Asia lainnya), rupiah stabil, bahkan cenderung menguat tipis.

Pelemahan rupiah ke arah Rp 14.000an, jika melihat data dari situs Bank Indonesia, mulai terjadi pada tanggal 30 April 2018, di mana nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar selama seminggu sebelumnya stabil di kisaran Rp 13.800an. Pelemahan mencapai puncaknya pada tanggal 8 Mei 2018, saat teror Mako Brimob terjadi, yaitu di harga Rp 13.966 dan berlanjut besoknya menjadi Rp 14.004. Namun karena penanganan krisis yang cepat dan profesional, rupiah kembali menguat secara perlahan namun pasti sejak tanggal 10 Mei 2018 menjadi 13.978.

Teror lanjutan Bom Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018 terlihat tidak mempengaruhi trend penguatan ini. Hari ini BI mengupdate nilai rupiah kembali membaik ke level Rp 13.901. IHSG pun menguat karena pasar tetap percaya diri.

Screen Shot 2018-05-14 at 10.23.32 PM

Jadi walaupun kita tetap bersimpati dan mengucapkan duka atas wafatnya 13 orang saudara saudara kita dan terlukanya 43 orang korban akibat kejahatan kemanusiaan ini, namun secara garis besar, adanya kedua teror berurutan justru memperlihatkan kuatnya dasar perekonomian kita, sulit diguncang oleh kekacauan.

Ini juga berarti isu yang ditebarkan oleh kelompok pembenci juga terbantahkan. Teror Mako Brimob dan Bom Gereja di Surabaya bukanlah sebuah upaya konspirasi dari pemerintah sendiri untuk menutupi melemahnya rupiah. Karena pada kenyataannya Rupiah justru dalam proses pemulihan saat adanya teror ini.

Bahkan ada pula yang meramalkan tragedi Mei 1998 sedang terjadi kembali karena kejadian-kejadian yang mirip dan menimbulkan dejavu. Padahal kondisi hari ini dengan Mei 1998 sama sekali berbeda. Indonesia sudah jauh lebih kuat, dengan GDP berkali lipat lebih baik, kemampuan membayar utang sudah lebih kuat.

Indonesia hari ini juga punya daya tawar jauh lebih baik di mata internasional karena memiliki peran strategis dalam perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara. Ini berbeda dengan posisi 1998, di mana IMF membelenggu kita dengan melarang berbagai kebijakan sebagai syarat pinjaman untuk mengatasi krisis moneter.

Kesimpulannya, barisan teroris dan para pembenci patah arang, bahkan mungkin putus asa. Teror besar sekelas bom gereja dan pemberontakan di blok sel teroris pun tak mampu mengguncang perekonomian Indonesia.

Baca juga:

  1. Kecaman atas pemboman Geraja Surabaya oleh Ketua Umum Projo.
  2. Kecaman serupa oleh Relawan Jokowi Jong Melayu, Ina Surbakti
  3. Analisa “korban” peledakan bom bisa jadi malah pelakunya sendiri, oleh Ananda Sukarlan

Dukacita untuk Berpulangnya @HBaskoroA, dan belasungkawa untuk Bunda @SMentariS

Dear Ibunda S Mentari Setiawari,

Ibunda Almarhum Harri Baskoro Adiyanto

Hari ini, 6 May 2018, keluarga besar JASMEV telah kehilangan salah satu anggota terbaiknya, Harri Baskoro Adiyanto, salah satu dari jutaan relawan kita yang selalu berjuang bersama-sama, dan sangat militan mendukung Pak Jokowi dan Pak Basuki Tjahaja Purnama. Kepergiannya yang tiba-tiba mendahului kita semua membuat kami semua sangat kehilangan, teringat kembali seluruh kenangan saat berjuang bersama-sama.

Saya turut berduka cita dan berbelasungkawa atas kejadian yang menimpa Harri Baskoro Adiyanto. Saya yakin, perjuangan almarhum untuk kehidupan yang lebih baik bagi warga Jakarta dan Bangsa Indonesia tidak akan sia-sia, serta menjadi amal jariyah yang tak berhenti mengalir bagi Almarhum.

Semoga seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan perlindungan dari Allah SWT.

Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.

Dyah Kartika Rini

Pendiri, Koordinator Jasmev

PS: terima kasih untuk ucapan belasungkawa dari Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi

Arus Industry 4.0 Tidak Terbendung, Kita Harus Siapkan Apa Saja? (3)

Industry 4.0 adalah tempatnya orang-orang yang mampu mengakali keterbatasan resource menjadi sebuah peluang. Mereka menyadari bahwa justru karena sulitnya membangun infrastruktur di pedalaman, maka ide Google Baloon bisa jadi populer. Jika pengusaha kita sibuk merengek-rengek bahwa membangun infastruktur internet di pedalaman mahal, maka siap-siaplah tergilas anak muda yang berani sediakan cara untuk menjangkau puluhan kilometer area hutan yang sepi dengan alat kecil saja. Industri telekomunikasi enggan berubah dan berinovasi?Bisa jadi anak-anak yang hari ini kita tertawakan sebagai alay, yang suatu saat akan kerjakan…

Kedua, pemerintah pun harus mengubah cara untuk mengedukasi tenaga kerja. Tak mungkin industri baru terbentuk tanpa adanya dukungan tenaga kerja yang sesuai. Di Jepang misalnya, profesi tukang las sudah punah, tergantikan robot. Semua produk dibuat massal dengan kualitas no 1. Tapi apakah seniman dan pengrajin tersingkir pula oleh robot? Tentu tidak, mereka mengisi ceruk barang-barang seni premium dengan sentuhan tangan maksimal. Sebuah piring tanah liat yang dibuat dengan tangan mungkin sudah tidak lagi digunakan untuk keperluan makan sehari-hari. Namun bisa terjual ribuan dollar untuk menghiasi meja makan para milyuner.

Adakah contohnya di Indonesia seperti itu? Ada, namanya Radio Magno yang digalangi Singgih R Kartono. Ia mengubah mindset pengrajin itu mesti miskin dan hidup serba tradisional. Maka radio kayu diubah menjadi sebuah tren vintage dengan orientasi ekspor agar memiliki nilai keekonomisan jauh lebih besar daripada sekedar membuat lemari murah yang dengan cepat tergilas buatan pabrik besar. Untuk memupuk kepercayaan pembeli dari luar negeri yang cerewet soal isu lingkungan, setiap radio yang diproduksi harus disisihkan kembali untuk menanam ratusan pohon di sekitar tempat produksinya. Dari awalnya produk kayu murah yang ditolak pabrik dalam negeri, sekarang Radio Magno diincar pembeli Jepang dengan harga jutaan rupiah.

Berapa kayu yang mesti ditebang Singgih? Cukup dua pohon per tahun saja! Tapi tentu tak cukup dengan menjadi ramah lingkungan saja. Pembelinya perlu tahu itikad baik ini. Maka Singgih menggunakan media internet untuk mengkomunikasikan produk “jadul”nya. Ia mungkin akan kesulitan bersaing dengan merk mahal dan mendunia seperti Apple, Bosch, Sony dan lainnya, tapi ia bisa mengejar ceruk yang tak akan mungkin diisi oleh iPod, iPhone, Bavaria, atau Microsoft sekalipun.

Maka itulah rahasia yang ketiga untuk kita bisa menunggangi arus Industry 4.0. Mampu menghilangkan kebiasaan memproduksi dan mendistibusikan barang KW alias bajakan. Be original, create your own brand, build your own movement. Untuk bisa menjadi pemimpin, kita harus bisa mengenali potensi diri sendiri. Tak perlu berangan-angan ingin membuat Facebook versi Indonesia, karena sudah ada yang bikin produk seperti itu, namanya Mark Zuckerberg. Tak perlu menjadi Bill Gates kedua, karena Windows sudah diadaptasi nyaris seluruh laptop dan PC sedunia, tidak ada lagi tempat untuk OS tiruan ala Indonesia yang dimirip-miripkan. Tidak perlu meniru gaya berpakaian Steve Jobs sekedar untuk dibilang technopreneur juga seperti sang almarhum.

Bakat-bakat Indonesia harus dipupuk untuk merawat idenya masing-masing. Dibiarkan memelihara mimpinya sendiri-sendiri, bukan diarahkan untuk membuat versi lain inovasi dunia menjadi ala Indonesia. Justru kitalah yang harus memunculkan inovasi akar rumput menjadi pemenuhan kebutuhan lokal yang kemudian diterima oleh dunia. Itulah semangat Gojek yang mesti dipahami. Saat dunia ribut soal aplikasi sharing taksi online, Gojek melihat potensi Ojek, bukan kendaraan roda empat. Konsepnya sama-sama sharing economy, tapi potensinya akan berbeda bila digarap dengan memperhatikan kearifan lokal.

Jadi, selamat menyambut air bah Industry 4.0! Persiapkan diri kita untuk menunggangi, atau persiapkan diri Anda untuk pensiun karena sudah ketinggalan!

Kembali ke tulisan pertama…

Kembali ke tulisan sebelumnya…

Arus Industry 4.0 Tidak Terbendung, Kita Harus Siapkan Apa Saja? (2)

Bahkan bangsa kitalah yang pertama mempopulerkan trend warung internet, di mana yang disajikan bukan lagi makanan dan minuman, namun koneksi internet. Sementara mi instan dan kopi susu sekedar jadi menu pendamping bagi pengguna Happy Hour yang kelaparan. Bayangkan, jualan utamanya adalah data ke dunia luar tanpa batas, sementara makanan dan minuman hanya sampingan untuk menambah kocek rezeki!

Setelah konsep Warnet populer di Indonesia, barulah dunia ikut-ikutan mempopulerkan istilah Cyber Cafe. Namun mereka tetap tidak bisa menandingi semangat mendirikan bisnis keterbukaan informasi murah meriah di kios reot, lembab, dan minim penerangan di tengah-tengah perkampungan kumuh dan padat. Indonesialah yang punya cerita itu, bukan Amerika Serikat, Jerman, apalagi Jepang yang sering dianggap pemimpin teknologi dunia.

Booming game online juga salah satunya berawal dari Indonesia. Jauh sebelum anak-anak remaja tanggung China tergila-gila dengan game online, kita sudah meramaikan Nexia, Ragnarok Online, Rising Force, dan lainnya. Saat itulah kita jadi bisa menerima konsep bahwa transaksi di internet tidak harus dalam bentuk menjual barang fisik. Kepemilikan atas akun, karakter, senjata dan equipment in-game, bahkan jasa menaikkan level menjadi populer. Padahal mereka semua tahu bahwa seluruh kepemilikan atas username, equipment, mata uang virtual di game adalah milik mutlak perusahaan penyedia jasa layanan game online.

Hacker kita bagaimana? Hacker Indonesia termasuk yang dihormati oleh dunia utak-atik informasi seluruh dunia. Siapa yang tidak kenal Jim Geovedi yang dalam hitungan detik bisa bikin China kocar kacir karena satelitnya diisengi sehingga lari jauh dari orbitnya? Bayangkan saat terjadi perang cyber, malah kita yang punya kemampuan merontokkan pertahanan cyber mereka. 

Ide bitcoin, ride sharing, informasi bebas seperti Wikipedia, juga dengan cepat diterima pengguna internet Indonesia, jauh sebelum pemerintah sebagai regulator memiliki gagasan untuk mengaturnya. Saat dunia baru mulai tergila-gila dengan layanan Uber, Grab, Lyft, Gett, Juno, kita Nadin Makarim sudah lebih dulu mempopulerkan Gojek! Bahkan kita ikut mempopulerkan pengembangan ridesharing menjadi layanan pesan antar makanan dan barang melalui Gofood dan Gosend. Barulah setelah ramai dan dirasakan lebih profitable dibanding layanan antar jemput orang, aplikasi lain ikut-ikutan. Saat dunia masih sibuk dengan perang bunuh membunuh ride sharing berbayar, kita sudah duluan bikin pengembangan lain, ride sharing dengan semangat tak perlu bayar kalau sekedar numpang, namanya nebengers.

Ternyata aplikasi luar malah jadi followernya aplikasi anak bangsa!

Di sisi lain, Wikipedia Bahasa Indonesia, misalnya, adalah 20 besar Wikipedia dalam bahasa non Inggris terbesar yang pernah ada. Kualitas depth (kedalaman) artikel Wikipedia Bahasa Indonesia mampu menyaingi bahasa-bahasa yang dianggap sumbernya jenius dunia, misalnya Russia, Portugis, dan Serbia. Bahkan kita mampu melebihi Wikipedia Bahasa Jerman, Jepang, Norwegia, Belanda, dan Swedia. Ini memperlihatkan potensi besar bahwa sebenarnya diam-diam kita ini penuh dengan intelektual yang senang berbagi informasi bebas dan gratis.

Bangsa lain masih meributkan apakah voting digital di Pemilu berpotensi memunculkan kecurangan dan breaching security atau tidak, kita sudah duluan mewujudkan ide mengawasi rekapitulasi suara bersama-sama dengan nama KawalPemilu yang digawangi relawan bernama Ainun Najieb.

Inilah kehebatan luar biasa Indonesia, gudangnya semangat sharing. Kita penuh bakat-bakat yang selama ini sulit diukur dari nilai komersialnya. Sekarang PR kita adalah mewujudkan bakat-bakat itu menjadi sebuah percepatan ekonomi. Melaju kencang dengan sharing economy. Menuju Industry 4.0 dengan semangat berbagi resource, bukan memonopoli.

Bagi saya, tantangan kita sebenarnya bukanlah infrastruktur. Karena kita beruntung sudah memiliki satu set kepemimpinan yang mengerti pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur, mulai dari Presiden, Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Perindustrian, Menteri Komunikasi dan Informatika, bahkan Menteri Pertanian dan Menteri Perikanan dan Kelautannya saja mengerti pentingnya pengembangan aplikasi dan produk teknologi informasi lainnya untuk menggenjot nilai ekonomi kita. Bahkan pengawasan kebakaran lahan saja sudah bisa diakses dari rumah masing-masing, lapor langsung ke Menteri KLHK Siti Nurbaya Bakar kalau melihat hostpot pertama kali. Ketemu penyelundup dan pencuri ikan di tengah laut? Laporkan langsung ke Bu Susi Pudjiastuti. Pasti ditanggapi.

Problemnya bukan lagi di infrastruktur dan pemerintahan. Bukan pula di modal kepintaran. Indonesia tidak kekurangan jenius. Hanya saja banyak dari mereka yang belum kita berikan pengakuan. Semua masih bergerak sendiri-sendiri, belum menyatu dalam sebuah kekuatan besar.  Belum cukup banyak usaha untuk anak-anak cerdas penular semangat Do It Yourself ini dengan angel investor, misalnya. Belum banyak perusahaan mapan yang mampu menghargai penampilan mereka yang slengekan. Ekonomi kita masih banyak dikuasai generasi baby boomers, sehingga gaya manajemennya pun masih ala tahun 70-80an.

Jika Indonesia ingin berubah dan mampu menunggangi arus revolusi industry 4.0 maka kita harus berani mengubah mindset. Pertama kita harus memberantas kebiasaan cengeng, mengeluh, menyalahkan pemerintah, koruptif, dan diskriminatif-rasis. Tidak ada tempat bagi orang-orang seperti itu dalam dunia Industry 4.0. Mereka yang ingin menunggangi arus Industry 4.0 harus berhenti meributkan agama orang lain apa dan mulai berpikir bagaimana caranya menang dalam perlombaan mendarat ke Mars pertama kali.

Bersambung ke tulisan selanjutnya…

Kembali ke tulisan sebelumnya…

Arus Industry 4.0 Tidak Terbendung, Kita Harus Siapkan Apa Saja? (1)

Sesuai Moore’s Law yang meramalkan perkembangan industri teknologi, terutama yang berhubungan dengan dunia informasi, dunia akan bergerak makin cepat dengan gerak eksponensial. Jika dulu kita harus menunggu puluhan tahun untuk sebuah penemuan baru, kini pendaftaran paten teknologi bekerja super sibuk mengurusi berbagai request yang masuk tiap beberapa menit sekali.

Dalam kondisi seperti ini, jelas hanya bangsa yang cepat dan tanggap menghadapi arus seperti bah ini yang akan sanggup menjadi pemimpin perubahan dunia. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia sebenarnya tidak perlu rendah diri karena merasa selama ini tertinggal dalam perkembangan teknologi. Justru masuknya tren Industry 4.0 menjadi momen bagi kita untuk ambil alih kendali dan menjadi pemimpin di Asia, atau setidaknya di ASEAN.

Memang, selama ini banyak yang mengeluh, jangankan untuk menjadi pemimpin teknologi informasi. Untuk mengupayakan seluruh Indonesia supaya Zero Percent Blank Spot koneksi internet saja kita kewalahan. Sementara Industry 4.0 butuh setidaknya koneksi 4G atau kalau bisa bahkan 5G. Bagaimana mungkin ini bisa tercapai kalau infrastruktur saja kita masih ketinggalan? Bagaimana mencetak engineer dan technopreneur tangguh kalau mau dapat sinyal GSM di daerah saja kita harus memanjat pohon kelapa dulu?

Tunggu dulu…

Sebenarnya kita harus bersyukur bahwa bangsa kita punya dua modal besar. Pertama karakter bangsa yang kreatif dan senang mengakali. Kedua adalah saat ini kita punya kepemimpinan yang tegas, transparan, dan berkinerja cepat. Itu adalah dua kapital luar biasa kita untuk mengejar ketertinggalan.

Sesuai dengan teori Bourdeau, ada tiga kapital besar dalam kehidupan, Economy Capital, Social Capital, dan Cultural Capital. Kita mungkin masih harus mengejar dalam hal economy capital, namun kita punya modal jejaring sosial luar biasa dan bakat-bakat jenius dalam memanfaatkan teknologi. Buktinya Jakarta bisa menjadi ibukota Twitter di Asia. Di balik segala kekurangan, diam-diam Indonesia sebenarnya punya peran besar dalam lahirnya internet.

Pada saat bayi internet baru lahir pada akhir 80an, mahasiswa dan dosen-dosen teknik kita sudah ikut dalam perjuangan perang kebebasan informasi.  Protokol Internet (IP) pertama dari Indonesia, UI-NETLAB (192.41.206/24) didaftarkan oleh Universitas Indonesia pada 24 Juni 1988.  RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto, dan tak mungkin ketinggalan, Onno W Purbo, menjadi pejuang bambu runcing untuk mengupayakan dunia yang borderless di tengah arus pengekangan yang mewarnai akhir hayat pemerintahan Orde Baru. Ide mengenai internet sudah muncul sebagai artikel-artikel pendek di Majalah Elektron buatan mahasiswa ITB tahun 1989. Tahun 1994, saat dunia baru mulai meributkan trend berinternet ria, Indonesia sudah punya ISP pertama bernama IndoNet.

Pak Onno adalah aktivis kebebasan informasi saat pemerintah waktu itu getol melarang layanan internet dengan semangat indie. RT RW Net yang bikin provider profesional ketar ketir harus menghadapi berbagai ancaman hukum. Namun hingga kini gerakan ini eksis dan banyak pendukungnya, sembari memupuk bakat-bakat baru yang senang mengakali keterbatasan menjadi sebuah peluang. 

Tulisan selanjutnya…